Selasa, 21 Mei 2013

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”  >>tere liye

 entah kenapa aku berpikir jika ini dapat diperumpamakan aku(daun) dan kau angin. daun tak pernah sekalipun membenci angin sekalipun angin yang mbuatnya jatuh dia tak pernah mengatakan bahwa dia sangat cinta pada angin, dia hanya ingin menjadi teman terbaik angin sehingga ketika daun mencoba mendekat angin malah membuatnya jatuh. sekiranya seperti itu daun percaya angin tak sengaja melakukannya dan berharap kelak jika angin datang di yang akan datang selanjutnya ketika daun tumbuh lagi.angin dapat mengerti betapa daun ingin menjadi teman terbaiknya saat ini daun tidak terpuruk dalam kesedihan bahkan daun berjanji jika dia ingin bermanfaat bagi yang lain untuk dapat dijadikan pupuk kompos yang diuraikan.

Imada Khoironi

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta 
Ya Allah, yang membolak-balikkan hati kami... Selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencinta Namun, aku berharap bila cinta hadir menyapaku aku tidak akan kehilangan Engkau  Ya Allah, selama ini aku hanya berharap Semoga bisa mencintai Orang yang memiliki cinta yang luar biasa kepada-Mu Ya Allah, selama ini aku juga berharap Semoga bisa dicintai Oleh orang yang bisa mengarahkanku Menuju keridhaan-Mu  Pintaku ya Allah, Ijinkan aku memiliki rasa ini Hingga ia menjadi indah di dada kami Tanpa mengurangi rasa cinta kami kepada-Mu...  (dikutip dari buku "Ya Allah, Aku Jatuh Cinta"-Burhan Sodiq)