Senin, 22 April 2013

ini ceritaku ceritaku saat menapakkan kakiku di daerah ini. pulau jawa bagian tengah yang secara keseluruhan penduduknya ramah, baik, halus mungkin hampir sama dengan daerah asalku tapi lebih jauh lebih halus tutur katanya walaupun tutur kata tidak menjadi dasar kita saat menilai orang tetaplah ini nilai plus tersendiri. aku disini demi cita citaku dan janjiku pada Allah dan orang tuaku.aku harus jadi insan yang bermanfaat bagi orang lain demi mengabdikan diriku sebagai dokter janjiku pada kakakku tersayang aku ingin kakak sembuh dan berharap jika kelak aku sukses aku ingin mengangkat derajat kedua orang tuaku. memang tujuan hidupku yang pertama adalah beribadah kepada Allah tapi dibawah itu semua aku juga ingin membahagiakan kalian bapak ibuk :* usahaku karena Allah, tapi disini karena kalian, dan perjuanganku demi kalian orang yang mencintaiiku tulus. tak pernah aku temukan dasyatnya selama hidup selain dasyatnya cintamu ibuku.cintamu tak pernah kekang oleh waktu. tak ada perjuangan yang begitu luar biasa selain perjuangan bapak yang mati matian mencari nafkah untuk keluarganya , terima kasih bapak aku janji takkan pernah mengecewakanmu. tak pernah ada kakak yang lebih hebat selain kakakku, luph u mbak dada. aku slalu ingat kata kata mbak saat wisuda "mbak cepet2 wisuda buat kamu dek agar bapak tidak berat dan bapak bisa menyekolahkan kamu ke kedokteran walaupun mbak jadi guru gak apa" jangan siasiakan usaha bapak yang banting tulang selama ini salam rinduku teramat dalam buat kalian aku selalu berdoa tak hanya di dunia aku dapat bersama kalian tapi di Jannah nanti kita bisa berkumpul satu keluarga dengan

Minggu, 20 Januari 2013

lagi pengen nulis nih emang sih hari ini dapat insprirasi dari sisi lain pak habibi yang mengutarakan kesedihannya dalam bentuk tulisan dan pak habibi mengutarakan semua cerita cintanya juga lewat tulisan kini aku juga akan post lewat tulisan insyaallah

JODOHMU cerminan dirimu

Banyak diantara kita yang sebelum menikah, mengangankan pasangan yang kriterianya seperti ini dan seperti itu. Bagi yang telah menikahpun, pasti masih menyimpan sebuah harapan pada pasangannya. Harapan agar pasangannya seperti yang ia idamkan. Salahkah jika kita menetapkan kriteria atau berharap pasangan saat ini sesuai dengan apa yang kita inginkan? Tentu tidak, selama hal itu masih dalam koridor syari’at dan apa yang ia harapkan mampu di penuhi oleh pasangannya. Bagaimana jika harapan itu terlalu tinggi hingga sulit dipenuhi? Seandainya kita tahu, tidaklah Allah memasangkan kita melainkan dengan yang sekufu juga. Bukankah Allah telah berjanji dalam firman-Nya? “ Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) .” (An Nuur: 26) Jika kita mengharapkan pasangan yang rajin menuntut ilmu, sudahkah kita aktif mendatangi majelis-majelis ilmu? Jika kita mengidamkan pasangan yang halus tutur kata dan perangainya, sudahkah kita sendiri santun dalam berucap dan berbuat? Jika kita mengharapkan pasangan yang rapat menjaga hijab dan kehormatannya serta menundukkan pandangannya dari lawan jenisnya, sudahkah kita menerapkan hal yang sama pada lawan jenis kita? Sungguh jika kita sadar, ketika mengharapkan pasangan dengan segudang kriteria dan kelebihan.. Cobalah bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah saya cukup baik untuk mendapatkan yang demikian?”. Ketika kita memimpikan pasangan yang 100% sesuai dengan harapan kita.. Jujurlah pada diri sendiri, “Sudahkah saya memenuhi harapannya akan kriteria pasangan ideal, sempurna 100%?” Bukan berarti mengharap mendapat pasangan yang lebih baik itu terlarang. Yang jadi ganjalan adalah ketika kita muluk-muluk memimpikan si dia yang serba sempurna tanpa cela.. sudahkah kita berkaca? Sudahkah kita melihat pada diri sendiri. Mengukur dan menakar. Pantaskah kita mendapatkan si serba sempurna sementara kita sendiri.. jauh dari kata sempurna? Tidak ada yang salah dengan bermimpi. Asal tetap menjejak pada realita. Jangan sampai mimpi kita justru menghalangi kita untuk bersegera menikah. Karena terlalu sibuk mengejar yang sempurna sehingga melupakan yang biasa namun lebih mampu menjaga kita dari fitnah. Atau bagi yang telah menikah, harapan itu menghalangi kita dari rasa syukur akan hadirnya pasangan yang Allah anugerahkan dalam hidup kita. Terus menuntut pasangan sesuai dengan keinginannya. Jadi, teruslah berusaha, memperbaiki diri dan tak putus berdo’a.. Agar diberikan yang shalih/ah dan menentramkan. Yang terbaik untuk menemani menjalani hari-hari, mewujudkan rumah tangga penuh sakinah di bawah limpahan rahmat-Nya. “ Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya ”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160) Karena sesungguhnya jodohmu… adalah cerminan dirimu. ~ Pagi hari yang dingin di timur Jakarta. repost dari http://aisyafra.wordpress.com/2012/10/20/jodohmu-cerminan-dirimu/

Sabtu, 19 Januari 2013

"habibie ainun"

yahh pengalamanku di liburan akhir tahun tepatnya tanggal 31 januari 2012 aku,ibu,bapak,kiki,mbak,itis ke surabaya.niatnya sih jelas banget refresing. apalagi ini emang request dari sang anak tersayang yaitu aku hehe pas di surabaya ibu bapak ke TP, aku,mbak furda,itis diturunin di delta. kita emang beda tujuan gara gara bapak gak mau di ajak nonton yahh akhirnya aku sama mbak ke 21 nya eh masih tutup. trus si itis sih niatnya pengen nonton 5cm berhubung kena pengaruhku dia akhirnya mau nonton habibi ainun kayak aku sama mbak. yehh kita turun untuk beli jamur goreng .berhubung kita bertiga jd beli sendiri sendiri ukuran medium sayangnya bonus tofunya gak ada sambil ngisi waktu kita ke WTC dulu eh pas baliknya 21 antriannya uda kayak antri BLT plus kyak rel kreta api coba, luama pake buangettts. dengan kesabaran akhirnya kita dapet tiga tiket dan lumayan strategis tempatnya hehe yang terpenting kita gk ketinggalan filmnya setelah nonton awalnya kita dibikin ngakak berat gara gara lucunya pak habibi yang dimainkan mas Reza ,eh mulai pertengahan sampai akhir kita dibikin nangis sampek berdarah darah melihat cinta pak habibi sama ibu ainun ya Allah so sweet banget sumpah aku gak pernah lupa dan nyesel pernah merogok kocek 25rb buat nonton film ini di akhir filmnya semua penonton termasuk aku juga pada ke kamar mandi buat cuci muka gara gara habis nangis pas nonton tadi hehe jadi malunya pas keluar ruangan bareng bareng deh :) exactly this is best movie that i ever saw.so silahkan nonton yaa jangan sampek ketinggalan,nyesel banget kalo gak nonton film ini.

Habibie dan Ainun "cinta sejati"

Semenjak bertemu denganmu, energi statik benih cintamu telah mengejutkan gaya pegas jantungku, sehingga jantungku berdetak tak beraturan bagaikan gelombang bunyi gendang yang tak beraturan saat aku berada beberapa meter darimu. Refleksi cahaya cintamu telah membunuh urat mataku sehinga membiaskan bayangan wajahmu yang selalu di otakku. Pancaran Radiasi Pesonamu membuat otakku tidak bisa berpikir rasional, sehingga elektromagnet dalam hatiku terpengaruh gelombang magnet cintamu. Sejak Saat itu, atom-atom penyusun cinta ini kian mengumpul karena gaya listrik statik dan energi Potensial di hatiku. Saat jauh darimu, partikel-partikel cintaku tidak bisa diam sehingga melakukan tumbukan-tumbukan lenting sempurna dan menghasilkan energi rindu dengan Rumus E = MC2. yang mana M adalah Masa waktu dimana semakin lama semakin jauh darimu maka energi rinduku semakin bertambah besar. Sedangkan C adalah Cintaku padamu yang berbanding lurus dengan Energi rinduku. Usaha untuk memberikan gaya lorenzt-ku padamu telah kuberikan dengan FL = i B Sin ØØ Mudah-mudahan dengan penurunan rumus cintaku padamu dapat memahami pemuaian cintaku padamu dan peningkatan massa jenis cintaku agar tekanan cinta dalam hatiku bisa setimbang setelah bereaksi dengan cahaya cintamu. Dimana bila FL adalah gaya cintaku padamu akan berbanding lurus dengan i (arus listrik cintaku) dan B adalah besarnya medan magnet dalam hatiku dan arah sudut refleksi cinta dengan Sin” Keterangan : I intensitas L listrik O optik V kecepatan E energi U usaha Semoga cinta kita bisa memenuhi hukum kekekalan energi yang menjadi nilai mutlak dari suatu kehidupan. salam cinta !!!

Selasa, 15 Januari 2013

Untuk sebuah ujian, aku katakan Terima kasih tlah menjadikanku dewasa. Untuk sebuah tantangan, aku katakan... Selamat datang Sobat terbaik di masa depan. Untuk sebuah hinaan, aku katakan... Sungguh, aku tidak keberatan, kawan. Untuk sebuah derita, aku katakan... Hai, apa kabar? lihat, aku masih bisa tertawa. Untuk sebuah kegagalan, aku katakan... Tenang saja, sungguh kau lebih hebat dari yang lainnya. Untuk sebuah masalah, aku katakan... Kau tidak sendirian, banyak orang yang bernasib sama. Untuk sebuah keraguan, aku katakan... Apa yang kau khawatirkan, selagi iman masih menancap di dada Untuk sebuah sakit hati, aku katakan... Maafkan, dan berjanjilah untuk tidak melakukan pada yang lainnya.

Sabtu, 15 Desember 2012

Kisah cinta sejati :3

dakwatuna.com - Siapa yang berkata bahwa kisah cinta sejati terbaik di muka bumi ini adalah roman antara Romeo dan Juliet karya William Shakepeare, sesungguhnya belum pernah mendengar kisah cinta Ali bin Abi Thalib RA, sang pemuda cekatan yang cinta akan ilmu dan putri Sang Rasulullah Sallahu ‘alaihi Wasallam sendiri, si wanita tegar yang lembut, Fatimah Az zahra. Pasti, karena kisah Romeo dan Juliet tak lebih dari sebuah roman yang dilukis di atas kertas. Berbanding terbalik dengan kisah yang dilandasi iman dan cinta pada Allah Subhanahu wata’alla dan ini benar-benar terjadi sekitar 14 abad silam menghiasi indahnya langit jazirah Arab pada masa itu. Cinta Ali pada Fatimah bukan cinta konyol yang bisa dengan mudah terlontar begitu saja, namun sebuah cinta yang dihiasi proses kedewasaan di balik umurnya yang masih muda. Cinta yang disimpannya begitu rapat, yang ia sendiri tak yakin itu cinta, sampai suatu saat perasaannya diuji. Ada seorang lelaki luar biasa datang kepada Rasulullah. Seorang sahabat yang membenarkan peristiwa Isra’ mi’raj Rasulullah dan oleh karenanya diberi gelar oleh Rasulullah “ash-siddiq”. Ya, Sahabat yang lahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah, atau lebih dikenal sebagai Abu Bakar Ash-Siddiq, telah melamar putri Sang Rasul. Hati Ali bergetar, namun tak serta merta membuatnya bergerak tak terarah. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan. Ali sadar, bahwa kedudukan Abu Bakar jauh lebih baik dari dirinya. Walaupun Abu bakar bukan kerabat dekat Nabi seperti Ali, namun hal itu tidak penting. Karena cinta Abu Bakar pada Rasulullah begitu besar. Ia yang menemani Rasulullah ketika hijrah, dan rela kakinya diracuni seekor ular dan menahan perihnya tanpa bersuara agar Rasulullah tidak terjaga dari tidurnya hingga air matanya tanpa ia sadari menetes ke pipi nabi. Sedangkan Ali merasa tidak sebanding dengan itu yang hanya menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya. Ia sudah rela jika memang jodoh Fatimah adalah abu bakar ia siap untuk mundur, karena inilah ukhuwah yang jauh lebih indah dari cinta yang dirasanya sekarang. Ia lebih mendahulukan kebahagiaan Fatimah atas cintanya. Namun ternyata lamaran Abu Bakar di tolak. Benih-benih cinta itu mulai bersemai kembali, dalam diam dan tenang ia mempersiapkan diri. Kelak suatu saat waktunya akan tiba. Dalam diam ia tetap menjaga cintanya. Ya, dalam diamnya pada dunia. Tidak mengumbar apa yang ada di hatinya. Cukup keheningan seperempat malam terakhir dan tahajudnya yang tahu akan cintanya pada sang putri Rasul. Lagi-lagi cintanya di uji, kini seseorang yang tak kalah luar biasa kembali datang menghadap Rasulullah dan menyatakan niat untuk melamar Fatimah. Lelaki yang jikalau syeitan mendengar langkah kakinya maka ia akan lari terbirit birit. Sang Al Farruq, Umar ibn Al Khattab. Pembeda antara hak dan yang bathil. Lelaki yang membuat dakwah Islam jauh lebih terbuka dan terang terangan. Memang, jika dibanding dengan Ali, Umar termasuk yang terakhir memeluk Islam. Tapi semangatnya mengejar ketinggalan, dan gegap gempita sabetan pedangnya yang konon hanya sanggup dibawa oleh sepuluh orang ini membuat Ali kecut. Lagi-lagi Ali meng-itsar-kan cintanya pada saudara nya Umar. Ia yakin Fatimah akan jauh lebih aman bersama Umar. Dan ia ridha akan itu. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan, Yang ini pengorbanan. Lagi-lagi lamaran ini di tolak. Ali bingung, lelaki seperti apa yang diidamkan Rasulullah menjadi menantunya. Siapa kiranya yang pantas menjadi pendamping Fatimah, dua sahabat terbaik yang datang tak menemukan apa yang diinginkan. Ali jadi ragu, akankah ia bisa? Dibuang jauh-jauh perasaan itu, ia maju ke medan peperangan cinta ini. Karena cinta tak menanti, ia ada jika kesempatan mempersilakan, dan Ali mengambil kesempatan itu. Dengan modal harta yang apa adanya ia datang, hanya seperangkat baju besi yang biasa ia pakai berperang menjadi modalnya. Ia sampaikan tujuan nya pada Rasulullah. Nabi tersenyum kecil, dan berkata “Ahlan wa sahlan”. Lamaran bersambut. Ali lah yang memenangkan peperangan ini. Ia bukan berperang dengan abu bakar atau Umar dalam memperebutkan sang gadis pujaan. Lebih besar lagi, ia berperang melawan hawa nafsunya. Ia memenangkan hatinya sendiri, dari keraguan dan bisikan keputusasaan. Dalam ujian hati ini, ia terus diam. Tak ada salah tingkah, tak ada syair-syair rindu, tak ada ratap sedih kegalauan. Ia menang dan maju sebagai lelaki sejati, menawarkan cinta berlandaskan keimanan pada sang Ayah Fatimah. Akhirnya Ali menikahi Fatimah. Tanpa janji-janji, tanpa penantian yang tak berujung, tanpa harapan kosong yang dengan mudah diumbar. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda” ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan Siapakah pemuda itu?” Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.” Sahabatku, inilah cinta sejati, inilah cinta yang hakiki. Cinta yang disimpan dalam-dalam di ruang hati, hanya Sang Pemilik cinta yang tahu akan rasa itu. Mungkin ia gadis yang kita cintai, atau pemuda itu yang kita dambakan. Namun, sungguh tak perlu rasanya ia tahu sebelum masanya tiba. Biarlah ia menunggu, sebagaimana Fatimah menunggu hadirnya cinta yang ia nanti. Atau jika kau lebih berani, jadilah Ali. Yang tak mengumbar janji dan maju melamar sang bidadari. Wallahu’alam Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25197/kisah-cinta-sejati/#ixzz2FAL62KPT